Kamis, 13 Desember 2012

Research And Development (R & D)


Penelitian dan Pengembangan (R & D)
Tujuan utama karya R & D tidak untuk merumuskan atau menguji teori tetapi untuk mengembangkan produk-produk  efektif untuk digunakan di sekolah. Produk yang dihasilkan oleh karya R & D meliputi materi pelatihan guru, materi pembelajaran, seperangkat tujuan pembelajaran, media pembelajaran, dan sistem manajemen. Karya R & D pada umumnya sangat luas cakupannya dilihat dari aspek tujuan, personil, dan waktu yang dibutuhkan. Produk itu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan khusus dan sesuai dengan spesifikasi yang rinci. Ketika R & D sudah selesai, produk tersebut telah teruji di lapangan dan diperbarui sampai tercapai keefektifan yang sudah dirancang sebelumnya. Meskipun proses R & D membutuhkan biaya yang tinggi, R & D menghasilkan produk kualitas yang didesain untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Pendidik dan Tenaga Kependidikan di sekolah yang merupakan pengguna produk R & D mungkin sebagai pihak yang pertama kali benar2 mengetahui manfaat penelitian pendidikan.
Penelitian Tindakan
Tujuan penelitian tindakan adalah memecahkan masalah-masalah di kelas melalui penerapan metode ilmiah. Penelitian tindakan terkait dengan masalah lokal dan dilaksanakan ditempat dan waktu tertentu. Hasil penelitian tindakan tidak dapat digeneralisasi untuk tempat dan waktu yang berbeda dan tidak memiliki ciri yang sama dengan kategori penelitian yang lain. Tujuan utama penelitian tindakan adalah pemecahan masalah tertentu, bukan untuk memberikan kontribusi untuk pengembangan ilmu. Apakah penelitian dilakukan di satu kelas atau banyak kelas, peran guru dalam proses itu sangat besar. Semakin banyak pelatihan penelitian yang diikuti oleh guru, semakin banyak penelitian yang menghasilkan temuan yang valid meskipun tidak bisa digeneralisasikan.
Manfaat penelitian tindakan tidak terbatas pada orang yang melaksanakan penelitian tersebut. Meskipun ada kelemahan-kelemahannya, penelitian tindakan bisa mencerminkan pendekatan ilmiah untuk pemecahan masalah yang dianggap lebih baik dari pada perubahan yang didasarkan atas dugaan keefektifan melalui prosedur yang blm diujicobakan dan sangat lebih baik dari pada tidak ada perubahan sama sekali. Peneli alat yang digunakan oleh personil sekolah bisa berusaha memperbaiki proses pendidikan paling tidak di lingkungannya sendiri. Tentu saja nilai penelitian tindakan terhadap kemajuan penelitian ilmiah yang benar terbatas. Kemajuan yang benar membutuhkan pengembangan teori-teori yang terpercaya yang memiliki implikasi terhadap banyak kelas bkn hanya satu atau 2 kelas. Suatu teori yang terpercaya memiliki 10 prinsip pembelajaran mungkin mengurangi kebutuhan terhadap ratusan studi penelitian tindakan yang akan datang. Karena keberadaan teori pendidikan sekarang ini, maka penelitian tindakan memberikan jawaban langsung terhadap masalah yang tidak mungkin menunggu solusi-solusi teoritik.
KLASIFIKASI PENELITIAN MENURUT METODENYA
Meskipun kadang-kadang ada tingkat overlap (tumpang tindih) kebanyakan studi penelitian mewakili sebuah metode atau strategi yang langsung bisa diidentifikasi. Semua studi memiliki prosedur tertentu secara umum–pernyataan sebuah masalah, pengumpulan data, analisis data dan penarikan simpulan. Akan tetapi sejauh ini, prosedur spesifik untuk sebuah tingkat tinggi ditentukan oleh metode penelitian. Setiap metode didesain untuk menjawab tipe pertanyaan yang berbeda. Pengetahuan berbagai metode dan prosedur yang masing-masing terkait, penting baik untuk peneliti maupun untuk pemakai penelitian. Bahkan dengan menggunakan metode sebagai kriteria, ada beberapa cara dimana penelitian dikalisifikasikan misalnya eksperimental vs noneksperimental, atau sejarah vs deskriptif vs eksperimental. Akan tetapi kalisifikasi ini cenderung mengumpulkan studi-studi terkait dengan strategi penelitian yang sangat berbeda. Sebuah skema klasifikasi yang muncul menjadi sangat efisien untuk mengurangi kategori dan memperbanyak perbedaan, menempatkan semua studi penelitian ke dalam satu dari 5 kategori: sejarah, deskriptif, korelasi, kausal- komparatif, atau eksperimental. Tujuan penjelasan berikut ini adalah untuk memberikan saudara sebuah ringkasan sehingga paling tidak sadari akan mampu membaca sebuah laporan penelitian dan berdasarkan prosedurnya, bisa menentukan manakah dari 5 metode yang mewakilinya. Kompetensi ini yang akan membantu saudara dalam mereview literatur untuk masalah yang saudara pilih dalam Bab 2. Metode penelitian akan dibahas selanjutnya pada Bab 6.
Penelitian Historik/Sejarah
Penelitian historik menyangkut mengkaji, memahami, dan menjelaskan peristiwa di masa lalu. Tujuan penelitian sejarah adalah untuk menghadirkan simpulan2 yang berkaitan dengan sebab, akibat, atau trend peristiwa masa lalu yang bisa membantu untuk menjelaskan peristiwa sekarang dan mengantisipasi masa yang akan datang. Sementara studi historik jarang dilakukan dari pada tipe penelitian yang lain, ada masalah-masalah dan isu-isu pendidikan khusus (seperti kebijakan penilaian) yang mungkin lebih baik dipahami dalam pandangan pengalaman masa lalu. Langkah-langkah yang terlibat dalam melakukan studi sejarah umumnya sama dengan tipe penelitian yang lain; sebuah studi sejarah seharusnya dipandu dengan sebuah hipotesis, seperti halnya studi eksprimental, jika tidak menurunkan “pemburuan harta karun” yang tak bertujuan.       
Berikut ini adalah contoh jenis studi penelitian sejarah:
1.      Faktor-faktor yang mengarahkan pada pengembangan dan pertumbuhan pengajaran kepribadian.
2.      Dampak-dampak keputusan MA PBB terhadap pendidikan Amerika.
3.      Trend2 terhadap pengajaran membaca, 1875-1975.
Penelitian Deskriptif
Berikut ini contoh2 pertanyaan tipikal yang investigasi oleh studi penelitian deskriptif:
1.      Bagaimana guru-guru kelas 2 memanfaatkan waktunya? Guru-guru kelas 2 akan diobservasi selama satu periode dan hasilnya mungkin akan dipresentasikan sebagai prosentase misalnya 60% waktunya digunakan mengajar, 20% bertanya atau menjawab pertanyaan, 10% melaksanakan disiplin administrasi, dan 10% melaksanakan tugas-tugas administrasi misalnya mengumpulkan uang susu.
2.      Bagaimana warga Yortown akan memberikan suara pada pemilihan presiden yang akan datang? Sebuah survey warga Yortown akan dilakukan (questioner atau interview), dan produknya mungkin akan disajikan dalam prosentase misalnya 70% menunjukkan mereka akan memberikan suara untuk Peter Pure, 20% untuk George Graft, dan 10% tidak memutuskan.
3.      Bagaimana para ortu merasakan hari-hari sekolah paruh waktu? Orang tua akan disurvey dan hasilnya mungkin akan disajikan dalam prosentase untuk setuju, menolak, atau tidak memutuskan. 
Penelitian Korelasi
Berikut ini contoh-contoh tipikal studi korelasi:
1.      Hubungan antara intelegensia dengan kreativitas. Skor atas uji intelegensia dan pada uji kreativitas akan diperoleh dari masing anggota kelompok yang ada. 2 kelompok skor akan dikorelasikan dan koefesien hasilnya akan menunjukkan tingkat keterkaitannya.
2.      Hubungan antara kecemasan dengan prestasi. Skor-skor pada skala kecemasan dan pada uji prestasi akan diperoleh dari masing-masing anggota kelompok. 2 kelompok skor akan dikorelasikan dan koefesien hasilnya akan menunjukkan tingkat keterkaitannya.
3.      Penggunaan tes bakat untuk memprediksikan kesuksesan di sebuah kursus aljabar. Skor-skor pada uji bakat aljabar akan dikorelasikan dengan kesuksesan akhir dalam aljabar karena diukur dengan skor ujian akhir, Misalnya. Jika koefesien hasilnya tinggi, maka uji bakat akan dianggap prediktor yang baik.
Penelitian Kausal-Komparatif dan Eksperimental
Berikut ini adalah contoh-contoh tipikal studi eksperimental:
1.      Keefektifan pengajaran terprogram dibandingkan dengan pengajaran tradisional atas ketrampilan berhitung. Variabel bebas atau sebab adalah jenis pengajaran (terprogram vs tradisional); variabel terikat atau akibat adalah ketrampilan berhitung. Dua kelompok (lebih dipilih terbentuk acak) akan dibuka pada dasarnya menjadi pengalaman yang sama, kecuali untuk metode pengajaran. Setelah beberapa waktu ketrampilan berhitung mereka akan dibandingkan.
2.      Akibat pengajaran kemauan sendiri pada konsep pribadi. Variabel bebas atau sebab adalah kemauan sendiri/belajar bebas (kemauan sendiri vs langkah guru); variabel terikat atau akibat adalah konsep pribadi. 2 kelompok (diambil secara acak) akan dibuka/dipilih secara jelas sebagai pengalaman yang sama, kecuali untuk langkah/laju pengajaran. Setelah beberapa waktu konsep-konsep pribadi mereka akan dibandingkan.
3.      Akibat penguatan positif atas sikap terhadap sekolah. Variabel bebas atau sebab adalah jenis penguatan (misalnya positif vs negative, atau positif vs tidak ada); variabel terikat atau akibat adalah sikap terhadap sekolah. 2 kelompok( dipilih secara acak) akan dibuka secara jelas menjadi pengalaman yang sama, kecuali untuk tipe penguatan yang diterima. Setelah beberapa waktu sikap mereka terhadap sekolah akan dibandingkan.
Berikut ini adalah contoh-contoh tipikal studi kausal-komparatif:
1.    Akibat kehadiran siswa TK pada prestasi di akhir kelas pertama. Variabel bebas atau sebab adalah kehadiran siswa TK (siswa TK yang dihadirkan atau yang tidak dihadirkan); variabel terikat atau akibat adalah prestasi di akhir kelas pertama. 2 kelompok yang diberi nilai pertama akan diidentifikasi–satu kelompok yang dating di TK dan satu kelompok yang tidak hadir. Prestasi-prestasi kelompok akan dibandingkan.
2.    Akibat memiliki ibu yang bekerja pada ketidakhadiran di sekolah. Variabel bebas atau sebab adalah status ibu ( ibu bekerja atau tidak); variabel terikat atau akibat adalah ketidakhadiran atau jumlah hari-hari absen/tidak hadir. 2 kelompok siswa akan diidentifikasi–satu kelompok yang memiliki ibu yang bekerja dengan satu kelompok yang ibunya tidak bekerja. ketidakhadiran 2 kelompok akan dibandingkan.
3.    Akibat jenis kelamin pada prestasi matematika. Variabel bebas atau sebab adalah jenis kelamin (laki2 vs perempuan); variabel terikat atau akibat adalah prestasi matematika. Prestasi laki2 akan dibandingkan dengan prestasi perempuan.
Petunjuk-Petunjuk Klasifikasi
Manakah dari 5 metode yang paling tepat untuk studi yang ada tergantung pada cara dimana masalah dibatasi. Masalah umum yang sama sering bisa diinvestigasi dengan menggunakan beberapa metode. Penelitian dalam wilayah yang ada sering runtut; deskriptif preliminer dan atau studi korelasi bisa dilakukan yang diikuti dengan Kausal-komparatif dan atau studi eksperimental, jika semacam itu kelihatannya terjamin. Sebagai contoh, marilah kita lihat kecemasan dengan prestasi. Studi-studi berikut ini mungkin bisa dilakukan:
1.    Deskriptif: sebuah survey guru untuk menentukan bagaimana dan pada tingkat apa mereka percaya kecemasan berakibat pada prestasi.
2.    Korelasi: sebuah studi untuk menentukan hubungan antara skor pada skala kecemasan dengan skor pada ukuran prestasi.
3.    Kausal-komparatif: sebuah studi untuk membandingkan prestasi sebuah kelompok siswa dikelompokkan yang memiliki kecemasan tinggi sama dengan kelompok yang memiliki kecemasan yang rendah.   
4.    Eksperimental: sebuah studi untuk membandingkan prestasi 2 kelompok–satu kelompok dibelajarkan dalam lingkungan yang menghasilkan kecemasan dengan satu kelompok yang dibelajarkan dalam lingkungan yang mengurangi kecemasan.
Berikut contoh-contoh seharusnya lebih jauh mengklarifikasikan perbedaan antar metode:
1.    Sikap guru terhadap persatuan. Mungkin deskriptif. Studi menentukan sikap guru sekarang. Data mungkin dikumpulkan melalui penggunaan questioner atau interview.
2.    Akibat status sosioekonomik (SES) pada konsep pribadi. Mungkin kausal-komparatif. Akibat SES pada konsep pribadi sdengan diteliti. Variabel bebas, status sosioekonomik, tidak bisa dimanipulasi.
3.    Perbandingan pengajaran kelompok besar vs kelompok kecil terhadap prestasi. Mungkin eksperimental. Akibat ukuran kelompok pada prestasi sdengan diteliti. Variabel bebas, ukuran kelompok, bisa dimanipulasi oleh peneliti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar